Shangri-La, nama hotel bintang lima yang populer bagi pebisnis di Asia, termasuk di Jakarta. Hotel Shangri-La ada di mana-mana dan salah satu favorit bagi business traveller. Pembaca FinanceAsia menobatkan Shangri-La sebagai jaringan hotel terbaik di Asia, Best Hotel Chain in Asia in the annual FinanceAsia Business Travel Poll Awards 2005. Hotel Shangri-La Jakarta termasuk ranking di antara Shangri-La Makati Filipina, Bangkok, Beijing, Hong Kong, Kuala Lumpur dan Taipei.
Tahun 2006, penghargaan sejenis diberikan Business Traveller Asia Pasific kepada Shangri-La sebagai Best Business Hotel Brand in Asia Pacific.Jaringan hotel milik Robert Kuok, tycoon Malaysia kelahiran Johor Baru ini berkantor pusat di Hong Kong dengan 47 hotel dan resor dengan lebih 23.000 kamar (untuk bintang lima di bawah nama Shangri-La, sedangkan bintang empat di bawah brand Traders).
Robert Kuok Hock Nien (83), orang terkaya di Asia Tenggara (menurut Majalah Forbes, kekayaannya 7 miliar dollar AS), adalah juga pemilik suratkabar South China Morning Post terbitan Hong Kong, Kerry Group, dan Perlis Plantation Bhd.
Shangri-La ada di mana-mana di kawasan Asia Pasifik. Sekarang ini sedang dibangun lagi di Kanada, China daratan, India, Makau, Malaysia, Maldives, Oman, Filipina, Qatar, Thailand, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat.Di Jakarta, hotel ini sudah cukup lama berdiri, belasan tahun lalu di kawasan Sudirman, samping Wisma BNI 46.
Restoran-restoran di Shangri-La Jakarta termasuk yang terbaik. Mulai dari Shang Palace, Nadaman, sampai BATS. Dulu ada Pearl Garden, sekarang berubah menjadi SATOO. Restoran Perancis Margaux dengan kursi dan meja makan yang menampilkan suasana aristokrat, belum lama ini berubah menjadi Restoran Italia, Rosso dengan wajah lebih cerah.
Saya datang ke Shangri-La untuk bertemu dengan sahabat lama, Mbak Ratna Sjamsiar Idris, Director of Communications. Sebelum di Shangri-La, Ratna, saya kenal bekerja di Hotel Mulia. (Waktu itu saya masih ditugaskan oleh Kompas untuk membantu Warta Kota, suratkabar Jabodetabek plus, yang salah satu kerjaan memang jalan-jalan ke hotel bintang lima di Jakarta).
Saya lihat Lobby Lounge-nya masih sama. Menjelang sore hari, ramai dikunjungi. Sekarang bisa lebih ramai lagi karena Shangri-La menyediakan fasilitas wifi di seluruh penjuru hotel ini. Saya kira ini strategi bisnis yang jitu mengingat pebisnis dari manapun, membutuhkan koneksi ke internet, untuk kepentingan bisnis mereka.
Mbak Ratna yang didampingi asistennya, Nikky Almon, menceritakan betapa Shangri-La sekarang sudah memiliki fasilitas wifi di mana-mana, termasuk di lima restoran di hotel itu. Jika misalnya setelah makan siang, ada meeting, yang membutuhkan koneksi internet, tak perlu keluar dari restoran itu. Sungguh praktis dan efisien. Dan fasilitas ini gratis! Saya kira dari seluruh hotel bintang lima di Jakarta yang menggratiskan fasilitas wifi, bisa jadi baru Shangri-La yang melakukan hal ini. Tidaklah heran jika Lobby Lounge dan lounge di Rosso senantiasa ramai.
Kami makan siang di Restoran Jepang Nadaman.Dekorasi restoran bernuansa Jepang ini diciptakan Kanko Kikaki Sekkeisha Yozo Shibata & Associates of Tokyo Japan. Mbak Ratna memperkenalkan Quick Plate Lunch di restoran ini, yang sangat cocok untuk pebisnis yang waktunya singkat tapi butuh makan siang yang lezat bergizi. Harga per paketnya Rp 77.777++.
Penyajiannya tidak lama, sekitar 15 menit, hidangan sudah datang. Ada Tempura Mori Awase, Sushi Mori Awase, Salmon Steak, dan Saikoro Steak. Semuanya memiliki makanan pembuka, tahu Agedashi, sup ayam, nasi, asinan, dan es krim sebagai penutup. Saya pilih Sushi Mori Awase yang menghidangkan aneka ragam sushi. Kalau Salmon Steak, itu stik Salmon dengan jamur dan asparagus, sedangkan Saikoro Steak dihidangakan dengan nasi goreng, stik potong dadu dan sayuran. Tempura Mori Awase, sesuai namanya, hidangan aneka tempura. Nah, itu kalau pilih sajian cepat di Nadaman. Tapi bisa juga a la carte dengan menu kamameshi, teppanyaki, sushi dan makanan asli Jepang lainnya.
Yang saya suka di Shangri-La adalah Lobby Lounge-nya. Kalau sore hari, dentingan piano terdengar, membuai tamu yang sedang menikmati hidangan sore berupa aneka kue di sana. Pianis memainkan lagu lama, “Just the Way You Are”, yang dipopulerkan Billy Joel, 30 tahun silam. Ya, sudah lama sekali. Tapi lagu itu tetap abadi. Seperti nama Shangri-La yang tetap abadi di mata business traveller.
Serpong, 21 Maret 2007
Travel: Jalan-Jalan
Blog ini memuat tulisan tentang jalan-jalan dan semua yang berkaitan dengan jalan-jalan, mulai dari transportasi, akomodasi, restoran, sampai kisahnya. Ditulis oleh Robert Adhi Ksp, penikmat jalan-jalan.
Rabu, 22 Juni 2011
Suasana Alam di Bogor
SETELAH menikmati suasana laut dengan deburan ombaknya, kami memilih berlibur dalam suasana alam di Bogor. Meski jaraknya relatif dekat dengan Jakarta, Bogor adalah tempat beristirahat dari panasnya Jakarta.
Kami menginap di Hotel Novotel Bogor yang asri.Hotel yang dikelola Accor Hospitality dan memiliki 178 kamar itu ternyata juga penuh. Separuh di antaranya diisi peserta rapat perusahaan, dan setengahnya wisatawan, baik orang Indonesia maupun orang asing. Saat kami datang, ada sekelompok wisatawan asal Perancis yang juga baru tiba. Lokasinya di tengah permukiman Golf Estate Bogor Raya, tak jauh dari gerbang tol Jagorawi.
Keunikan hotel resor ini adalah memiliki halaman rumput yang luas serta pepohonan yang meneduhkan. Taman nan hijau ini menjadi keunggulan hotel ini karena sebagian besar kamar memiliki view langsung ke taman Kami memilih kamar dengan bathtub di luar sehingga saat membersihkan badan pun menjadi aktivitas unik.
Suasana seperti ini mirip dengan resor-resor di tepi pantai seperti di Tanjung Lesung, Pandeglang (Banten) atau pun resor di Bali. Kamar berlantai kayu ini memiliki satu kamar tidur berukuran besar dengan satu sofa santai untuk menonton televisi.
Saat petang, kami menikmati suasana teduh di taman nan hijau. Kolam renang dengan desain eksotis, berbeda dengan desain kolam renang umumnya di hotel. Pengelola hotel menyediakan fasilitas olahraga lainnya seperti lapangan tenis, meja pingpong, lapangan voli pantai.
Dan seperti halnya hotel-hotel Novotel lainnya, Dolfi Kids Club merupakan fasilitas bermain untuk anak. Semua dindingnya terbuat dari kaca. Ada sejumlah buku yang dapat dibaca saat waktu luang. Saya sempat membaca komik petualanganTin Tin di Sovyet, dalam format ukuran lebih kecil (sekarang diterbitkan Gramedia, bukan lagi Indira).
Saat malam tiba, kami memilih makan di “Bale Bengong”, tempat makan lesehan yang lokasinya dibuat sedemikian rupa sehingga suasana makan malam begitu romantis. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Restoran Meranti, restoran utama di Novotel Bogor. Tamu-tamu di “Bale Bengong”, saya tebak dari Korea Selatan dan India (bisa jadi orang Singapura atau Malaysia keturunan India).
Restoran lainnya. Capriccio” menyajikan pasta-pizza “home-made” dan menu Mediterania. Tamu bisa menikmati makan malam romantis dengan terang lilin.Accor Hospitality merupakan perusahaan pengelola hotel terkemuka di dunia.
Accor yang bermarkas di Perancis ini, mengelola hotel dan resor Sofitel, Grand Mercure, Novotel, Mercure, all seasons, Ibis, Formule-1. Di Jakarta sendiri, belum ada Hotel Novotel. Yang ada Sofitel, Gran Mahakam di Blok M. Yang banyak, jaringan Hotel Ibis (mulai Ibis Slipi, Ibis Kemayoran, Ibis Mangga Dua, Ibis Tamarin, Ibis Arcadia) dan Mercure (Hayam Wuruk dan Ancol). Ada juga Formule-1 di Menteng.
Nah, kembali ke Bogor. Menikmati liburan di Bogor, kami menikmati pula masakan Sunda. Karena lama pernah tinggal di Bandung, kami sangat menikmati nasi timbel komplet di rumah makan “Sunda Kelapa” dan “Bale Kabayan” di kota itu, saat makan siang dalam dua hari berlibur di Bogor. Sungguh nikmat….
Satu saja yang “kurang nyaman” di Bogor, yaitu kemacetan lalu lintas akibat angkot-angkot. Terlalu banyak angkot di kota itu. Meski begitu, kami merindukan suasana alam yang asri dan teduh. Di Bogor, “refresh your mind, focus and have fun”.
Liburan yang berkesan dan menyenangkan, tetap dapat dinikmati di negeri nan indah ini. Orang asing saja terkagum-kagum pada keindahan alam dan keramahtamahan penduduk Indonesia. Tentunya kita sebagai warga negara Indonesia harus bangga pada negeri indah nan rupawan ini.
Anda setuju kan jika kita berharap para pemimpin Indonesia termasuk Presiden mendatang, akan memperhatikan sektor pariwisata. Kita berharap Presiden Indonesia dapat melihat betapa potensialnya kekayaan wisata negeri ini, kemudian mencanangkan bahwa pariwisata akan dijadikan tambang devisa negara, dan membenahi semua lokasi wisata.
Kita berharap suatu saat kelak nama Indonesia akan dikenal sebagai destinasi utama di kawasan Asia, tak hanya Bali dan Lombok, tetapi juga berbagai daerah lainnya.
Serpong, 13 Juli 2008
Kami menginap di Hotel Novotel Bogor yang asri.Hotel yang dikelola Accor Hospitality dan memiliki 178 kamar itu ternyata juga penuh. Separuh di antaranya diisi peserta rapat perusahaan, dan setengahnya wisatawan, baik orang Indonesia maupun orang asing. Saat kami datang, ada sekelompok wisatawan asal Perancis yang juga baru tiba. Lokasinya di tengah permukiman Golf Estate Bogor Raya, tak jauh dari gerbang tol Jagorawi.
Keunikan hotel resor ini adalah memiliki halaman rumput yang luas serta pepohonan yang meneduhkan. Taman nan hijau ini menjadi keunggulan hotel ini karena sebagian besar kamar memiliki view langsung ke taman Kami memilih kamar dengan bathtub di luar sehingga saat membersihkan badan pun menjadi aktivitas unik.
Suasana seperti ini mirip dengan resor-resor di tepi pantai seperti di Tanjung Lesung, Pandeglang (Banten) atau pun resor di Bali. Kamar berlantai kayu ini memiliki satu kamar tidur berukuran besar dengan satu sofa santai untuk menonton televisi.
Saat petang, kami menikmati suasana teduh di taman nan hijau. Kolam renang dengan desain eksotis, berbeda dengan desain kolam renang umumnya di hotel. Pengelola hotel menyediakan fasilitas olahraga lainnya seperti lapangan tenis, meja pingpong, lapangan voli pantai.
Dan seperti halnya hotel-hotel Novotel lainnya, Dolfi Kids Club merupakan fasilitas bermain untuk anak. Semua dindingnya terbuat dari kaca. Ada sejumlah buku yang dapat dibaca saat waktu luang. Saya sempat membaca komik petualanganTin Tin di Sovyet, dalam format ukuran lebih kecil (sekarang diterbitkan Gramedia, bukan lagi Indira).
Saat malam tiba, kami memilih makan di “Bale Bengong”, tempat makan lesehan yang lokasinya dibuat sedemikian rupa sehingga suasana makan malam begitu romantis. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Restoran Meranti, restoran utama di Novotel Bogor. Tamu-tamu di “Bale Bengong”, saya tebak dari Korea Selatan dan India (bisa jadi orang Singapura atau Malaysia keturunan India).
Restoran lainnya. Capriccio” menyajikan pasta-pizza “home-made” dan menu Mediterania. Tamu bisa menikmati makan malam romantis dengan terang lilin.Accor Hospitality merupakan perusahaan pengelola hotel terkemuka di dunia.
Accor yang bermarkas di Perancis ini, mengelola hotel dan resor Sofitel, Grand Mercure, Novotel, Mercure, all seasons, Ibis, Formule-1. Di Jakarta sendiri, belum ada Hotel Novotel. Yang ada Sofitel, Gran Mahakam di Blok M. Yang banyak, jaringan Hotel Ibis (mulai Ibis Slipi, Ibis Kemayoran, Ibis Mangga Dua, Ibis Tamarin, Ibis Arcadia) dan Mercure (Hayam Wuruk dan Ancol). Ada juga Formule-1 di Menteng.
Nah, kembali ke Bogor. Menikmati liburan di Bogor, kami menikmati pula masakan Sunda. Karena lama pernah tinggal di Bandung, kami sangat menikmati nasi timbel komplet di rumah makan “Sunda Kelapa” dan “Bale Kabayan” di kota itu, saat makan siang dalam dua hari berlibur di Bogor. Sungguh nikmat….
Satu saja yang “kurang nyaman” di Bogor, yaitu kemacetan lalu lintas akibat angkot-angkot. Terlalu banyak angkot di kota itu. Meski begitu, kami merindukan suasana alam yang asri dan teduh. Di Bogor, “refresh your mind, focus and have fun”.
Liburan yang berkesan dan menyenangkan, tetap dapat dinikmati di negeri nan indah ini. Orang asing saja terkagum-kagum pada keindahan alam dan keramahtamahan penduduk Indonesia. Tentunya kita sebagai warga negara Indonesia harus bangga pada negeri indah nan rupawan ini.
Anda setuju kan jika kita berharap para pemimpin Indonesia termasuk Presiden mendatang, akan memperhatikan sektor pariwisata. Kita berharap Presiden Indonesia dapat melihat betapa potensialnya kekayaan wisata negeri ini, kemudian mencanangkan bahwa pariwisata akan dijadikan tambang devisa negara, dan membenahi semua lokasi wisata.
Kita berharap suatu saat kelak nama Indonesia akan dikenal sebagai destinasi utama di kawasan Asia, tak hanya Bali dan Lombok, tetapi juga berbagai daerah lainnya.
Serpong, 13 Juli 2008
Selasa, 21 Juni 2011
Ancol, Favorit Wisatawan Nusantara
ANCOL. Kami menikmati suasana Ancol pada awal pekan ini dan memilih menginap di Hotel Mercure Convention Center Ancol (dulu Hotel Horison). Hotel yang dikelola Accor Hospitality ini ternyata penuh oleh mereka yang sedang berlibur. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Baik yang akan check-in maupun yang sedang mengurus check-out, antre panjang.
Kami memesan kamar yang menghadap pemandangan ke laut, dengan balkon di luar. Di kamar itu terdapat dua tempat tidur yang lebar plus satu sofa. Sejak dikelola Accor, hotel ini dipermak dan dipercantik. Saya memang memanfaatkan kartu keanggotaan Accor Advantage Plus, yang saya beli awal tahun ini.
Bagi mereka yang suka plesiran dan hobi makan, kartu ini salah satu “jalan” yang tepat. Kereta gantung (cable car) “Gondola” tampak dari kamar tempat kami menginap. Rupanya “Gondola” salah satu favorit pengunjung Ancol, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Keluarga yang bersama kami di satu kabin, ternyata berasal dari Surabaya. Setiap orang yang naik kereta gantung ini dikenakan biaya Rp 35.000. Dari atas, kami dapat melihat suasana Ancol, termasuk suasana pantai umum yang airnya berwarna kecoklatan.
Selain kereta gantung, Ancol punya Sea World Indonesia, yang dikembangkan Grup Lippo (keluarga Riady). Beragam ikan dari perairan Indonesia, dapat disaksikan di sini, termasuk ikan perairan laut dalam.
Atraksi “memberi makan ikan” yang dapat disaksikan dari akuarium raksasa, menjadi menarik. Aneka hewan laut tampak mendekat saat waktu pemberian makan tiba. Hewan-hewan laut ini dapat pula dilihat dari terowongan transparan. Anak-anak terpukau menyaksikan “anak-anak buaya” tidur-tiduran, termasuk “buaya putih”. Ikan duyung yang sering digambarkan sebagai “putri duyung” ternyata wajahnya ya wajah ikan. Hanya saja bentuk tubuh bawahnya, memang aduhai, mirip lekukan tubuh perempuan.
Pengunjung Sea World Indonesia juga terpukau melihat ikan-ikan hiu berkeliaran dalam akuarium khusus. Juga menyaksikan ratusan ikan piranha menghabisi ikan lainnya dalam sekejab.Semasa liburan ini, pengunjung Sea World rata-rata 10.000 orang dalam sehari. Tarif masuk Rp 50.000 per orang. Biaya masuk lebih murah untuk kakek atau nenek (lansia). Tapi pada hari-hari biasa, bukan masa liburan, jumlah pengunjung berkisar antara 1.000 dan 3.000-an.
Dunia Fantasi atau Dufan, tetap unggulan Ancol. Selain itu ada juga Gelanggang Samudra dan Gelanggang Renang Atlantis.Ancol harus bekerja keras agar Atlantis tetap memikat karena kini bermunculan permainan air serupa seperti Ocean Park Water Adventure di BSD City (Tangerang), The Jungle (Bogor), Water Boom Lippo Cikarang (Bekasi), Water Boom Pantai Indah Kapuk (Jakarta). Juga ada permainan serupa dalam skala kecil di sejumlah perumahan.
Atraksi Police Academy akan berlangsung hingga Agustus 2008 mendatang, juga menarik pengunjung. Grup stuntman dan stuntwoman yang baru saja selesai syuting film James Bond terbaru itu, berasal dari Italia.Selain menawarkan aneka ragam permainan dan pertunjukan, Ancol juga memiliki resto-resto berkelas yang lokasinya di tepi laut. Bandar Djakarta, restoran seafood, yang tak pernah sepi.
Backstage yang lebih cocok untuk anak muda yang menikmati “hang out”, Segarra dengan sofa di tepi pantai, ataupun Jimbaran bernuansa Bali. Pengunjung resto-resto ini tetap dapat menikmati suasana deburan ombak tepi pantai. Kami memilih Jimbaran dengan suasana Bali, sebagai tempat makan malam.
Pekan sebelumnya, saya sempat bertemu dengan Direktur Utama PT Jaya Ancol Budi Karya Sumadi saat pembukaan Jakarta Great Sale di Pacific Place. Pak Budi cerita bahwa target Ancol dalam masa liburan awal Juni hingga pertengahan Juli ini adalah dua juta pengunjung.
Saya kira target itu terpenuhi. Ancol memang lautan manusia selama masa liburan ini. Bahkan saat makan pagi di Hotel Mercure Ancol pun, karyawan hotel kewalahan. Tamu hotel yang datang menjelang waktu makan pagi selesai, sulit menemukan gelas, piring dan sejenisnya karena kehabisan!
Saat menikmati liburan di Ancol, saya melihat wajah-wajah gembira ada di mana-mana. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Ancol masih memikat bagi wisatawan Nusantara, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Serpong, 12 Juli 2008
Kami memesan kamar yang menghadap pemandangan ke laut, dengan balkon di luar. Di kamar itu terdapat dua tempat tidur yang lebar plus satu sofa. Sejak dikelola Accor, hotel ini dipermak dan dipercantik. Saya memang memanfaatkan kartu keanggotaan Accor Advantage Plus, yang saya beli awal tahun ini.
Bagi mereka yang suka plesiran dan hobi makan, kartu ini salah satu “jalan” yang tepat. Kereta gantung (cable car) “Gondola” tampak dari kamar tempat kami menginap. Rupanya “Gondola” salah satu favorit pengunjung Ancol, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Keluarga yang bersama kami di satu kabin, ternyata berasal dari Surabaya. Setiap orang yang naik kereta gantung ini dikenakan biaya Rp 35.000. Dari atas, kami dapat melihat suasana Ancol, termasuk suasana pantai umum yang airnya berwarna kecoklatan.
Selain kereta gantung, Ancol punya Sea World Indonesia, yang dikembangkan Grup Lippo (keluarga Riady). Beragam ikan dari perairan Indonesia, dapat disaksikan di sini, termasuk ikan perairan laut dalam.
Atraksi “memberi makan ikan” yang dapat disaksikan dari akuarium raksasa, menjadi menarik. Aneka hewan laut tampak mendekat saat waktu pemberian makan tiba. Hewan-hewan laut ini dapat pula dilihat dari terowongan transparan. Anak-anak terpukau menyaksikan “anak-anak buaya” tidur-tiduran, termasuk “buaya putih”. Ikan duyung yang sering digambarkan sebagai “putri duyung” ternyata wajahnya ya wajah ikan. Hanya saja bentuk tubuh bawahnya, memang aduhai, mirip lekukan tubuh perempuan.
Pengunjung Sea World Indonesia juga terpukau melihat ikan-ikan hiu berkeliaran dalam akuarium khusus. Juga menyaksikan ratusan ikan piranha menghabisi ikan lainnya dalam sekejab.Semasa liburan ini, pengunjung Sea World rata-rata 10.000 orang dalam sehari. Tarif masuk Rp 50.000 per orang. Biaya masuk lebih murah untuk kakek atau nenek (lansia). Tapi pada hari-hari biasa, bukan masa liburan, jumlah pengunjung berkisar antara 1.000 dan 3.000-an.
Dunia Fantasi atau Dufan, tetap unggulan Ancol. Selain itu ada juga Gelanggang Samudra dan Gelanggang Renang Atlantis.Ancol harus bekerja keras agar Atlantis tetap memikat karena kini bermunculan permainan air serupa seperti Ocean Park Water Adventure di BSD City (Tangerang), The Jungle (Bogor), Water Boom Lippo Cikarang (Bekasi), Water Boom Pantai Indah Kapuk (Jakarta). Juga ada permainan serupa dalam skala kecil di sejumlah perumahan.
Atraksi Police Academy akan berlangsung hingga Agustus 2008 mendatang, juga menarik pengunjung. Grup stuntman dan stuntwoman yang baru saja selesai syuting film James Bond terbaru itu, berasal dari Italia.Selain menawarkan aneka ragam permainan dan pertunjukan, Ancol juga memiliki resto-resto berkelas yang lokasinya di tepi laut. Bandar Djakarta, restoran seafood, yang tak pernah sepi.
Backstage yang lebih cocok untuk anak muda yang menikmati “hang out”, Segarra dengan sofa di tepi pantai, ataupun Jimbaran bernuansa Bali. Pengunjung resto-resto ini tetap dapat menikmati suasana deburan ombak tepi pantai. Kami memilih Jimbaran dengan suasana Bali, sebagai tempat makan malam.
Pekan sebelumnya, saya sempat bertemu dengan Direktur Utama PT Jaya Ancol Budi Karya Sumadi saat pembukaan Jakarta Great Sale di Pacific Place. Pak Budi cerita bahwa target Ancol dalam masa liburan awal Juni hingga pertengahan Juli ini adalah dua juta pengunjung.
Saya kira target itu terpenuhi. Ancol memang lautan manusia selama masa liburan ini. Bahkan saat makan pagi di Hotel Mercure Ancol pun, karyawan hotel kewalahan. Tamu hotel yang datang menjelang waktu makan pagi selesai, sulit menemukan gelas, piring dan sejenisnya karena kehabisan!
Saat menikmati liburan di Ancol, saya melihat wajah-wajah gembira ada di mana-mana. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Ancol masih memikat bagi wisatawan Nusantara, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Serpong, 12 Juli 2008
Deburan Ombak di Pantai
KEMANA Anda menikmati liburan panjang lalu? Masa liburan memang hampir selesai. Kali ini, saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang liburan. Banyak tempat wisata yang indah di Indonesia, mengapa harus berlibur ke luar negeri? Lha, orang asing saja banyak yang berlibur ke tempat-tempat wisata di Indonesia, mengapa kita malah pergi ke luar negeri, untuk buang-buang devisa?
Pekan lalu, saya sekeluarga menikmati keindahan Pulau Sepa, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu dan masih masuk wilayah Jakarta. Pulau Sepa yang berjarak 54 mil dari Marina Ancol, dapat digapai dengan kapal cepat.Pulau ini masih memiliki pasir putih dan pantai bersih yang dapat digunakan bermain oleh anak-anak. Tentu saja kondisi pantai di Pulau Sepa, berbeda dengan pantai di Ancol yang relatif kotor. Air laut di pantai Pulau Sepa masih bening.
Dua turis asal Belanda yang menginap di Pulau Sepa, menyampaikan kekagumannya. “Beautiful island,” katanya. Pasangan wisatawan Belanda itu mungkin usianya sudah hampir 60 tahun. Mereka terbang dari Bandara Schipol Amsterdam, langsung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Saudara saya bekerja di Jakarta,” kata mereka.
Keluarga orang asing lainnya yang menikmati keindahan Pulau Sepa adalah keluarga besar Korea Selatan. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka. Ternyata reuni besar keluarga itu di Pulau Sepa. “Putri saya lama bermukim di Amerika. Setelah dia menikah, kami jarang bertemu. Baru kali ini kami bertemu lagi,” kata Ny Lee. Pak Lee membawa saksofon dan alat karaoke produk Korea. Dia mengajak menyanyi bersama saat malam tiba.
Begitulah keakraban sesama tamu terjalin di pulau indah, yang dapat ditempuh hanya 1,5 jam dari Marina Ancol.Pagi hari, kami menyaksikan pantai yang berada tepat di vila tempat kami menginap, menyurut. Batu karang, yang menjadi rumah ikan terlihat jelas. Namun angin laut bertiup sangat kencang.
Menjelang siang, air laut mulai pasang dan kembali normal. Ombak berkejar-kejaran. Suara deburan ombak dan semilir angin laut, membuat suasana di Pulau Sepa betul-betul suasana berlibur. Duduk di kursi santai di tepi pantai, sambil membaca buku dalam suasana tenang dan damai. Bagi yang menyukai privasi, menginap pada saat weekdays saat yang tepat.
Sebaliknya, bagi yang suka keramaian, pada weekends, pulau resor ini selalu ramai. Pulau Sepa ternyata merupaka lokasi berlibur yang favorit bagi orang asing, baik mereka yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya, maupun yang sengaja datang dari negara mereka.
Indonesia memiliki ribuan pulau, dan beberapa di antaranya merupakan pulau indah seperti Pulau Sepa. Seandainya saja pemerintah menyadari betapa pentingnya memperkuat sektor pariwisata sebagai tambang devisa negara, tentu pulau-pulau nan indah yang tersebar di banyak lokasi itu akan dibenahi dan menjadi destinasi.
Kapan pariwisata jadi unggulan?
Empat belas tahun silam, saya pernah ke Pulau Aruba di kawasan Karibia, Amerika Tengah. Pulau itu koloni Belanda, sekitar 50 mil barat laut dari Curacao. Waktu itu saya berpikir, Pulau Bali lebih baik dibandingkan Aruba. Bali memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tapi jumlah turis yang datang, waw, gila-gilaan. Aruba dibantu Belanda, menang promosi.
Pulau Aruba seluas 193 km2 (Bayangkan luas Pulau Bali 5.633 km2) itu mulai menggalakkan pariwisata sejak tahun 1985 setelah sebelumnya dilanda krisis ekonomi. Nah sekarang banyak orang kaya dunia memilih berlibur di Aruba, pulau kecil di Karibia itu.
Kembali ke soal pariwisata. Malaysia sudah menyadari bahwa sumber daya alam mereka akan habis. Sepuluh tahun terakhir ini, Malaysia giat menggalakkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa. Bagaimana dengan Indonesia?
Pulau-pulau nan indah jumlahnya ribuan, tapi dibiarkan terlantar, sia-sia. Kita ini seperti kelaparan di lumbung padi. Mungkin ada baiknya kita mengimbau presiden mendatang untuk peduli pariwisata. Bisa nggak buat gebrakan agar Indonesia, negeri nan indah dan rupawan ini, dikenal sebagai destinasi wisata utama di Asia?
Serpong, 12 Juli 2008
Pekan lalu, saya sekeluarga menikmati keindahan Pulau Sepa, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu dan masih masuk wilayah Jakarta. Pulau Sepa yang berjarak 54 mil dari Marina Ancol, dapat digapai dengan kapal cepat.Pulau ini masih memiliki pasir putih dan pantai bersih yang dapat digunakan bermain oleh anak-anak. Tentu saja kondisi pantai di Pulau Sepa, berbeda dengan pantai di Ancol yang relatif kotor. Air laut di pantai Pulau Sepa masih bening.
Dua turis asal Belanda yang menginap di Pulau Sepa, menyampaikan kekagumannya. “Beautiful island,” katanya. Pasangan wisatawan Belanda itu mungkin usianya sudah hampir 60 tahun. Mereka terbang dari Bandara Schipol Amsterdam, langsung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Saudara saya bekerja di Jakarta,” kata mereka.
Keluarga orang asing lainnya yang menikmati keindahan Pulau Sepa adalah keluarga besar Korea Selatan. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka. Ternyata reuni besar keluarga itu di Pulau Sepa. “Putri saya lama bermukim di Amerika. Setelah dia menikah, kami jarang bertemu. Baru kali ini kami bertemu lagi,” kata Ny Lee. Pak Lee membawa saksofon dan alat karaoke produk Korea. Dia mengajak menyanyi bersama saat malam tiba.
Begitulah keakraban sesama tamu terjalin di pulau indah, yang dapat ditempuh hanya 1,5 jam dari Marina Ancol.Pagi hari, kami menyaksikan pantai yang berada tepat di vila tempat kami menginap, menyurut. Batu karang, yang menjadi rumah ikan terlihat jelas. Namun angin laut bertiup sangat kencang.
Menjelang siang, air laut mulai pasang dan kembali normal. Ombak berkejar-kejaran. Suara deburan ombak dan semilir angin laut, membuat suasana di Pulau Sepa betul-betul suasana berlibur. Duduk di kursi santai di tepi pantai, sambil membaca buku dalam suasana tenang dan damai. Bagi yang menyukai privasi, menginap pada saat weekdays saat yang tepat.
Sebaliknya, bagi yang suka keramaian, pada weekends, pulau resor ini selalu ramai. Pulau Sepa ternyata merupaka lokasi berlibur yang favorit bagi orang asing, baik mereka yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya, maupun yang sengaja datang dari negara mereka.
Indonesia memiliki ribuan pulau, dan beberapa di antaranya merupakan pulau indah seperti Pulau Sepa. Seandainya saja pemerintah menyadari betapa pentingnya memperkuat sektor pariwisata sebagai tambang devisa negara, tentu pulau-pulau nan indah yang tersebar di banyak lokasi itu akan dibenahi dan menjadi destinasi.
Kapan pariwisata jadi unggulan?
Empat belas tahun silam, saya pernah ke Pulau Aruba di kawasan Karibia, Amerika Tengah. Pulau itu koloni Belanda, sekitar 50 mil barat laut dari Curacao. Waktu itu saya berpikir, Pulau Bali lebih baik dibandingkan Aruba. Bali memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tapi jumlah turis yang datang, waw, gila-gilaan. Aruba dibantu Belanda, menang promosi.
Pulau Aruba seluas 193 km2 (Bayangkan luas Pulau Bali 5.633 km2) itu mulai menggalakkan pariwisata sejak tahun 1985 setelah sebelumnya dilanda krisis ekonomi. Nah sekarang banyak orang kaya dunia memilih berlibur di Aruba, pulau kecil di Karibia itu.
Kembali ke soal pariwisata. Malaysia sudah menyadari bahwa sumber daya alam mereka akan habis. Sepuluh tahun terakhir ini, Malaysia giat menggalakkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa. Bagaimana dengan Indonesia?
Pulau-pulau nan indah jumlahnya ribuan, tapi dibiarkan terlantar, sia-sia. Kita ini seperti kelaparan di lumbung padi. Mungkin ada baiknya kita mengimbau presiden mendatang untuk peduli pariwisata. Bisa nggak buat gebrakan agar Indonesia, negeri nan indah dan rupawan ini, dikenal sebagai destinasi wisata utama di Asia?
Serpong, 12 Juli 2008
Jakarta Great Sale, Mungkinkah Saingi Singapura?
HARI Jumat (27/6/2008) malam lalu, saya iseng ke Hotel Grand Hyatt Jakarta di Jalan MH Thamrin. Awalnya saya tidak terlalu “ngeh” bahwa pada malam itu di Plaza Indonesia, akan ada Midnight Sale. Setelah kesulitan mencari parkir lebih dari 30 menit (teman saya lebih stres lagi, lebih dari satu jam, tetap tak dapat tempat parkir), barulah saya tersadar bahwa malam itu akan digelar Midnight Sale.
Saya ingat sepekan sebelumnya, di Senayan City, juga ada Midnight Sale selama empat malam. Gila. Banyak sekali orang yang berbelanja produk-produk berkelas dengan harga diskon. Debenhams, ritel baru di bawah pengelolaan PT Mitra Adi Perkasa (MAP) ini menjual produk berkelas dengan harga diskon, seperti yang biasa dibeli banyak orang Indonesia bila sedang ke Singapura.
Sukses Debenhams ini terulang lagi ketika ritel yang sama di Plaza Indonesia, menggelar Midnight Sale serupa pada 27 Juni lalu. Pada malam itu, bukan hanya Plaza Indonesia, tetapi juga Grand Indonesia, pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, yang lokasinya bertetangga dengan Plaza Indonesia, yang menggelar Midnight Sale. Pantas, Jalan MH Thamrin, di seputaran Bundaran HI selepas pukul 21.00 masih padat.
Dari Midnight Sale selama dua pekan terakhir ini, saya mengambil kesimpulan betapa orang Indonesia “haus” berbelanja. Pantas saja selama ini banyak yang mencari produk berkelas berharga murah di Singapura. Hari Minggu (29/6) sore, Jakarta Great Sale resmi dibuka Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di atrium pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, Pacific Place di kawasan superblok SCBD, Jakarta.
Dalam acara yang menonjolkan seni dan budaya Betawi itu, hadir pemilik Pacific Place (termasuk apartemen dan Hotel The Ritz-Carlton) adalah Sugianto Kusuma alias Aguan dan Tan Kian. Asal tahu saja, Pacific Place dibangun dengan nilai investasi sekitar 500 juta USD.
Pak Fauzi kemudian bilang bahwa Jakarta Great Sale akan dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menyaingi Great Singapore Sale, Malaysia Mega Sale ataupun Hongkong Great Sale. Saya sependapat dengan pernyataan Pak Gubernur.
Saya pernah mendapat tugas meliput Great Singapore Sale (GSS) beberapa tahun lalu. GSS dikemas sedemikian rupa. Singapore Tourism Board atau STB memadukan semua pihak sehingga event GSS menjadi atraktif. Jadi tidak sekadar mengajak wisatawan asing berbelanja, tetapi juga mengajak mencicipi kuliner dalam Singapore Food Festival dan mengajak menonton acara seni budaya dalam Singapore Art Festival, yang waktunya disesuaikan dengan waktu pernyelenggaraan GSS, yang biasanya digelar sejak Mei hingga Juli.
Ketika wartawan Indonesia termasuk saya diajak ke Safari Night di Singapura, saya pun bertanya-tanya, apa bagusnya ya Safari Night di sana. Menurut saya, Taman Safari Indonesia milik Pak Frans Manangsang lebih bagus kok, lebih lengkap koleksi satwanya. Ternyata Singapura jago “menjual”. Promosi mereka gencar, sehingga kata-kata lebih indah dari faktanya.
Lalu wartawan Indonesia diajak ke lokasi spa. Waktu saya bilang sama “guide” STB bahwa spa di Indonesia lebih bagus dibandingkan spa di negeri itu. Petugas STB bilang spa itu berasal dari Thailand. Saya bilang lagi, wah kalau di Indonesia, spa-spa dengan aroma khas di Jawa Tengah dan Yogyakarta masih yang terbaik. Tetapi saya akui bahwa pengorganisasian dan promosi GSS oleh STB memang luar biasa. “Marketing” Singapura oke punya.
Tadi saya sempat ngobrol dengan Vice President Luxury Shopping Mall PT Pacific Place Indonesia Dianne Pearce. Dia bilang Singapura mampu merealisasikan itu dalam waktu 15-20 tahun. Dianne yakin Jakarta Great Sale pun punya potensi menyaingi GSS asal semua pihak bersinergi dengan dukungan pemerintah. Infrastruktur transportasi juga perlu diperhatikan karena masalah kemacetan lalu lintas merupakan persoalan tersendiri.
Menunggu MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas selesai dan beroperasi tahun 2014, wah terlalu lama. Busway? Belum menjangkau semua wilayah, termasuk kawasan SCBD. Menurut Dianne, perlu terobosan lain misalnya monorel yang menghubungkan mal satu dengan yang lainnya. Dan ini akan lebih mengundang banyak wisatawan asing datang ke Jakarta.JGS mendatang lebih baik?
Pak Fauzi Bowo pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta tahun 1990-an. Karena itu tentu kita berharap “sentuhan” Pak Fauzi Bowo dalam JGS mendatang membuat JGS makin lebih baik.Kualitas mal-mal di Jakarta tidak kalah dari mal di Singapura.
Bahkan Grand Indonesia (milik Grup Djarum dan Grup Wings) dan Pacific Place (milik Sugianto Kusuma dan Tan Kian) dapat disebut pusat perbelanjaan modern dengan segmen pasar kelas menengah dan menengah atas. Senayan City pun demikian. Gerai waralaba dan produk yang dijual, tak jauh beda dengan di Singapura, Malaysia, Hongkong dan lainnya.
Cobalah Anda datang ke mal-mal baru itu. Susah cari parkir dan selalu penuh. Jarang ada mal di Jakarta yang lahan parkirnya lengang. Mungkin berapa pun mal baru yang dibangun, akan selalu ramai, terutama mal-mal middle-up. Mungkin ini pertanda kelas menengah Indonesia terus tumbuh berkembang. Mungkin ini juga pertanda ekonomi kota ini terus menggeliat, meski tingkat inflasi masih tinggi.
Bukan hanya mal baru yang ramai, tetapi juga pusat-pusat belanja yang sudah lama berdiri juga masih ramai. Plaza Senayan, Pondok Indah Mal, Mal Taman Anggrek, Mal Ciputra, Mal Kelapa Gading dan sebagainya. Di pinggiran Jakarta, di daerah perumahan yang sedang berkembang ada Summarecon Mal Serpong dan Supermal Karawaci, juga Cibubur Junction.
Nah, kembali ke soal Jakarta Great Sale. Saya sempat tanyakan kepada Pak Benjamin Mailool (CEO dan Presiden PT Matahari Putra Prima Tbk), Ketua Pelaksana JGS 2008 dan Surjadi Sasmita (Presiden PT Indonesia Wacoal), Sekretaris Pelaksana JGS, mengapa JGS kurang promosi.
Mereka bilang karena persiapannya hanya satu bulan. Tetapi, mereka katakan bahwa JGS tahun-tahun mendatang, akan lebih baik. Aneh jika misalnya JGS tak punya anggaran promosi dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Pak Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata bilang, dia pun belum lama menjabat sehingga persiapan pun kurang. Tapi JGS mendatang, Pak Arie bilang anggaran promosi pasti ada.
Lha, siapa yang mau datang, jika tak ada promosi tentang JGS? Sebagus apa pun produk, tapi kalau tidak diinformasikan, ya akan sedikit yang datang, kata Pak Fauzi.
Saya sempat ngobrol dengan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi. Pak Budi bilang kalau saja JGS dipadukan dengan paket hotel, penerbangan, agen perjalanan, dan pusat rekreasi keluarga seperti Ancol, tentu hasilnya akan lebih maksimal.
Peran pemerintah menjadi fasilitator menjadi sangat penting karena biasanya masing-masing asosiasi lebih sering menonjolkan ego sendiri daripada bersinergi. Nah Pak Mara Oloan Siregar, Asisten Perekonomian DKI Jakarta mengatakan ke depan, pihaknya akan menjadi fasilitator agar JGS dikerjakan dengan sinergi antar-asosiasi. Kita tunggu realisasinya, Pak!
Jakarta, 30 Juni 2008
Saya ingat sepekan sebelumnya, di Senayan City, juga ada Midnight Sale selama empat malam. Gila. Banyak sekali orang yang berbelanja produk-produk berkelas dengan harga diskon. Debenhams, ritel baru di bawah pengelolaan PT Mitra Adi Perkasa (MAP) ini menjual produk berkelas dengan harga diskon, seperti yang biasa dibeli banyak orang Indonesia bila sedang ke Singapura.
Sukses Debenhams ini terulang lagi ketika ritel yang sama di Plaza Indonesia, menggelar Midnight Sale serupa pada 27 Juni lalu. Pada malam itu, bukan hanya Plaza Indonesia, tetapi juga Grand Indonesia, pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, yang lokasinya bertetangga dengan Plaza Indonesia, yang menggelar Midnight Sale. Pantas, Jalan MH Thamrin, di seputaran Bundaran HI selepas pukul 21.00 masih padat.
Dari Midnight Sale selama dua pekan terakhir ini, saya mengambil kesimpulan betapa orang Indonesia “haus” berbelanja. Pantas saja selama ini banyak yang mencari produk berkelas berharga murah di Singapura. Hari Minggu (29/6) sore, Jakarta Great Sale resmi dibuka Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di atrium pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, Pacific Place di kawasan superblok SCBD, Jakarta.
Dalam acara yang menonjolkan seni dan budaya Betawi itu, hadir pemilik Pacific Place (termasuk apartemen dan Hotel The Ritz-Carlton) adalah Sugianto Kusuma alias Aguan dan Tan Kian. Asal tahu saja, Pacific Place dibangun dengan nilai investasi sekitar 500 juta USD.
Pak Fauzi kemudian bilang bahwa Jakarta Great Sale akan dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menyaingi Great Singapore Sale, Malaysia Mega Sale ataupun Hongkong Great Sale. Saya sependapat dengan pernyataan Pak Gubernur.
Saya pernah mendapat tugas meliput Great Singapore Sale (GSS) beberapa tahun lalu. GSS dikemas sedemikian rupa. Singapore Tourism Board atau STB memadukan semua pihak sehingga event GSS menjadi atraktif. Jadi tidak sekadar mengajak wisatawan asing berbelanja, tetapi juga mengajak mencicipi kuliner dalam Singapore Food Festival dan mengajak menonton acara seni budaya dalam Singapore Art Festival, yang waktunya disesuaikan dengan waktu pernyelenggaraan GSS, yang biasanya digelar sejak Mei hingga Juli.
Ketika wartawan Indonesia termasuk saya diajak ke Safari Night di Singapura, saya pun bertanya-tanya, apa bagusnya ya Safari Night di sana. Menurut saya, Taman Safari Indonesia milik Pak Frans Manangsang lebih bagus kok, lebih lengkap koleksi satwanya. Ternyata Singapura jago “menjual”. Promosi mereka gencar, sehingga kata-kata lebih indah dari faktanya.
Lalu wartawan Indonesia diajak ke lokasi spa. Waktu saya bilang sama “guide” STB bahwa spa di Indonesia lebih bagus dibandingkan spa di negeri itu. Petugas STB bilang spa itu berasal dari Thailand. Saya bilang lagi, wah kalau di Indonesia, spa-spa dengan aroma khas di Jawa Tengah dan Yogyakarta masih yang terbaik. Tetapi saya akui bahwa pengorganisasian dan promosi GSS oleh STB memang luar biasa. “Marketing” Singapura oke punya.
Tadi saya sempat ngobrol dengan Vice President Luxury Shopping Mall PT Pacific Place Indonesia Dianne Pearce. Dia bilang Singapura mampu merealisasikan itu dalam waktu 15-20 tahun. Dianne yakin Jakarta Great Sale pun punya potensi menyaingi GSS asal semua pihak bersinergi dengan dukungan pemerintah. Infrastruktur transportasi juga perlu diperhatikan karena masalah kemacetan lalu lintas merupakan persoalan tersendiri.
Menunggu MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas selesai dan beroperasi tahun 2014, wah terlalu lama. Busway? Belum menjangkau semua wilayah, termasuk kawasan SCBD. Menurut Dianne, perlu terobosan lain misalnya monorel yang menghubungkan mal satu dengan yang lainnya. Dan ini akan lebih mengundang banyak wisatawan asing datang ke Jakarta.JGS mendatang lebih baik?
Pak Fauzi Bowo pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta tahun 1990-an. Karena itu tentu kita berharap “sentuhan” Pak Fauzi Bowo dalam JGS mendatang membuat JGS makin lebih baik.Kualitas mal-mal di Jakarta tidak kalah dari mal di Singapura.
Bahkan Grand Indonesia (milik Grup Djarum dan Grup Wings) dan Pacific Place (milik Sugianto Kusuma dan Tan Kian) dapat disebut pusat perbelanjaan modern dengan segmen pasar kelas menengah dan menengah atas. Senayan City pun demikian. Gerai waralaba dan produk yang dijual, tak jauh beda dengan di Singapura, Malaysia, Hongkong dan lainnya.
Cobalah Anda datang ke mal-mal baru itu. Susah cari parkir dan selalu penuh. Jarang ada mal di Jakarta yang lahan parkirnya lengang. Mungkin berapa pun mal baru yang dibangun, akan selalu ramai, terutama mal-mal middle-up. Mungkin ini pertanda kelas menengah Indonesia terus tumbuh berkembang. Mungkin ini juga pertanda ekonomi kota ini terus menggeliat, meski tingkat inflasi masih tinggi.
Bukan hanya mal baru yang ramai, tetapi juga pusat-pusat belanja yang sudah lama berdiri juga masih ramai. Plaza Senayan, Pondok Indah Mal, Mal Taman Anggrek, Mal Ciputra, Mal Kelapa Gading dan sebagainya. Di pinggiran Jakarta, di daerah perumahan yang sedang berkembang ada Summarecon Mal Serpong dan Supermal Karawaci, juga Cibubur Junction.
Nah, kembali ke soal Jakarta Great Sale. Saya sempat tanyakan kepada Pak Benjamin Mailool (CEO dan Presiden PT Matahari Putra Prima Tbk), Ketua Pelaksana JGS 2008 dan Surjadi Sasmita (Presiden PT Indonesia Wacoal), Sekretaris Pelaksana JGS, mengapa JGS kurang promosi.
Mereka bilang karena persiapannya hanya satu bulan. Tetapi, mereka katakan bahwa JGS tahun-tahun mendatang, akan lebih baik. Aneh jika misalnya JGS tak punya anggaran promosi dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Pak Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata bilang, dia pun belum lama menjabat sehingga persiapan pun kurang. Tapi JGS mendatang, Pak Arie bilang anggaran promosi pasti ada.
Lha, siapa yang mau datang, jika tak ada promosi tentang JGS? Sebagus apa pun produk, tapi kalau tidak diinformasikan, ya akan sedikit yang datang, kata Pak Fauzi.
Saya sempat ngobrol dengan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi. Pak Budi bilang kalau saja JGS dipadukan dengan paket hotel, penerbangan, agen perjalanan, dan pusat rekreasi keluarga seperti Ancol, tentu hasilnya akan lebih maksimal.
Peran pemerintah menjadi fasilitator menjadi sangat penting karena biasanya masing-masing asosiasi lebih sering menonjolkan ego sendiri daripada bersinergi. Nah Pak Mara Oloan Siregar, Asisten Perekonomian DKI Jakarta mengatakan ke depan, pihaknya akan menjadi fasilitator agar JGS dikerjakan dengan sinergi antar-asosiasi. Kita tunggu realisasinya, Pak!
Jakarta, 30 Juni 2008
Sensasi Marine Walk di Pulau Sepa
BERJALAN kaki di dasar laut? Inilah sensasi terbaru yang saya alami pada akhir pekan ini. Menikmati suasana dasar laut dengan santai. Memberi makan ikan-ikan yang lewat seliweran di depan mata.Sampai hari Minggu nanti, saya berada di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu, sekitar 54 mil dari Marina Ancol Jakarta.
Ditemani Pak Rachmat, dive master, saya tidak hanya menikmati marine walk, tetapi juga sempat menikmati diving di perairan Pulau Sepa.
Marine Walk adalah atraksi terbaru yang ada di Indonesia. Desember 2007, atraksi ini diperkenalkan pertama di Bali. Lalu pada April 2008 ini, PT Bali Marine Walk mencari pangsa pasar baru di Kepulauan Seribu.
Pulau Sepa dipilih karena hanya pulau inilah yang layak. Pantainya berpasir putih dan lautnya masih jernih.Presiden Direktur PT Bali Marine Walk, I Made Suardana S bersama Managing Director Freddy SPS ke Pulau Sepa untuk mempersiapkan pre-launching marine walk di Pulau Sepa ini, hari Sabtu (19/4/2008).
Pak Made mengatakan, dasar laut Pulau Sepa sangat baik karena masih jernih. Aneka ikan dapat ditemui di sini.Nah, terbayang nggak sih Anda bermain dan bercanda bersama ikan-ikan di dasar laut?
Direktur Operasional PT Pulau Sepa Permai, Firmanto optimistis turis asing akan datang ke pulau itu untuk menikmati marine walk. Sensasi baru yang saya alami di dasar laut Pulau Sepa ini sempat direkam oleh Pak Freddy, Managing Director PT Bali Marine Walk dengan kamera digital waterproof.
Memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Anda harus merasakan sendiri betapa indahnya hidup ini ketika kita berada di bawah laut, menyaksikan ikan-ikan berseliweran di depan mata. Anda harus datang sendiri ke Pulau Sepa, yang masih masuk wilayah DKI Jakarta. Percuma mengobral kata-kata indah jika Anda belum merasakan sendiri sensasi ini.
Keindahan alam ini seharusnya dilihat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sayang sekali jika pulau-pulau resor di Kepulauan Seribu ini dibiarkan berkembang sendiri, tanpa dukungan pemerintah.Sesungguhnya Jakarta memiliki kekayaan wisata alam yang luar biasa, yang dapat menghasilkan devisa negara.
Jakarta, 18 April 2008
Ditemani Pak Rachmat, dive master, saya tidak hanya menikmati marine walk, tetapi juga sempat menikmati diving di perairan Pulau Sepa.
Marine Walk adalah atraksi terbaru yang ada di Indonesia. Desember 2007, atraksi ini diperkenalkan pertama di Bali. Lalu pada April 2008 ini, PT Bali Marine Walk mencari pangsa pasar baru di Kepulauan Seribu.
Pulau Sepa dipilih karena hanya pulau inilah yang layak. Pantainya berpasir putih dan lautnya masih jernih.Presiden Direktur PT Bali Marine Walk, I Made Suardana S bersama Managing Director Freddy SPS ke Pulau Sepa untuk mempersiapkan pre-launching marine walk di Pulau Sepa ini, hari Sabtu (19/4/2008).
Pak Made mengatakan, dasar laut Pulau Sepa sangat baik karena masih jernih. Aneka ikan dapat ditemui di sini.Nah, terbayang nggak sih Anda bermain dan bercanda bersama ikan-ikan di dasar laut?
Direktur Operasional PT Pulau Sepa Permai, Firmanto optimistis turis asing akan datang ke pulau itu untuk menikmati marine walk. Sensasi baru yang saya alami di dasar laut Pulau Sepa ini sempat direkam oleh Pak Freddy, Managing Director PT Bali Marine Walk dengan kamera digital waterproof.
Memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Anda harus merasakan sendiri betapa indahnya hidup ini ketika kita berada di bawah laut, menyaksikan ikan-ikan berseliweran di depan mata. Anda harus datang sendiri ke Pulau Sepa, yang masih masuk wilayah DKI Jakarta. Percuma mengobral kata-kata indah jika Anda belum merasakan sendiri sensasi ini.
Keindahan alam ini seharusnya dilihat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sayang sekali jika pulau-pulau resor di Kepulauan Seribu ini dibiarkan berkembang sendiri, tanpa dukungan pemerintah.Sesungguhnya Jakarta memiliki kekayaan wisata alam yang luar biasa, yang dapat menghasilkan devisa negara.
Jakarta, 18 April 2008
Sensasi Diving di Kepulauan Seribu
DIVING? Ini sensasi baru yang saya alami ketika bertugas di Kepulauan Seribu awal pekan lalu. Ajakan sekaligus tantangan Kepala Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu Sumarto memang menggetarkan hati saya. Katanya, “Jangan pernah mengaku pernah ke Kepulauan Seribu, kalau belum pernah menyelam, diving di sini.”
Rasa penasaran ditambah keinginan untuk melakukan adventure, petualangan baru, membuat saya ngotot kembali lagi ke Kepulauan Seribu. Alhasil, pada hari Selasa (12/6) pagi, saya datang lagi ke Marina Ancol, pagi-pagi sekali.
Saya tiba pukul 05.50. Perjalanan dari rumah cukup 50 menit, itupun dalam kecepatan sangat santai. Ternyata Pak Sumarto sudah tiba lebih dulu, dan tidur di mobilnya. Hari Senin sebelumnya, saya ke Kepulauan Seribu, ke Pulau Kotok Besar untuk melihat pencemaran limbah minyak di perairan tersebut.
Nah, soal diving, yang tertantang dengan ajakan Pak Sumarto ternyata bukan hanya saya. Ada dua teman lainnya, yaitu Aan Dwi Puantoro (RCTI) dan Prasetyo Utomo (Antara). Karena itu, begitu sampai di Pulau Pramuka (butuh satu jam dari Marina Ancol dengan kapal cepat HM Dephut), kami bertiga langsung jalan ke baliho tak jauh dari Pulau Pramuka, markas Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Kami bertiga dibantu instruktur Pak Umar, Pak Saeran dan Pak Satibi. Mereka semua sudah master dalam dunia diving, dan ketiganya orang pulau. Setelah diajari cara menggunakan tabung diving dan penggunaan alat lainnya, kami diminta melakukan pemanasan dulu, seperti halnya pemanasan olahraga.
Setelah itu, kami diminta untuk mengawali dengan snorkeling lebih dahulu. Jadi tabung belum digunakan. Ngomong-ngomong soal snorkeling, saya ingat waktu bertugas di Kalimantan Barat, saya pernah lho melakukan snorkeling di perairan sebuah pulau di Laut China Selatan, yang masuk wilayah Kalbar. Airnya jernih sekali. Ikan-ikan dan terumbu karangnya luar biasa. Setelah hampir 10 tahun, saya baru kali ini melakukan snorkeling lagi.
Waw, asyik banget lho. Berputar-putar di perairan Laut Jawa, dekat Pulau Pramuka, melihat bagaimana ikan-ikan berseliweran, dan terumbu karang hasil rehabilitasi. Setelah sensasi snorkeling, saya menikmati sensasi diving. Di sinilah saya merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang ada di dalam laut.
Memang awalnya ada perasaan was-was. Tetapi rasa penasaran lebih banyak sehingga setelah berada di dalam laut, saya menikmati scuba diving ini. Saya didampingi Satibi. Telinga memang terasa sakit. Tetapi lama-lama, rasa sakit itu hilang. Rupanya saya sudah di kedalaman 1o meter, di bawah kontainer yang menjadi rumah ikan.
Apakah Anda bisa membayangkan, bagaimana rasanya melihat ratusan atau ribuan ikan kecil tiba-tiba melintas di dekat kita? Beragam karang hias yang berwarna-warni memancarkan keindahan alami. Sungguh sensasi yang tak terlupakan!
Esok paginya, Rabu (13/6), kami diajak ke perairan Pulau Semak Daun, untuk melakukan diving lagi. Perahu motor nelayan berhenti di tengah laut lepas. Lalu kami satu persatu masuk ke dalam bawah laut. Awalnya tetap snorkeling. Tapi tak berapa lama, kami mulai menyelam. Kali ini, saya menyelam hingga di kedalaman 12 meter, didampingi Pak Satibi.
Saya melihat ikan pari menyelinap di bawah bebatuan di dasar laut. Ikan-ikan hias berwarna-warni yang menyimpan keindahan tiada tara. Sayang, saya belum punya kamera bawah air. Kalau tidak, tentu sensasi seperti ini bisa diabadikan. Suatu hari kelak, saat diving lagi, petualangan di bawah laut itu harus diabadikan.
Sungguh, saya baru kali pertama menyelam diving di bawah laut. Karena itu instruktur saya, Satibi bilang, untuk seorang pemula, menyelam di kedalaman 12 meter sudah luar biasa. Saya memang senang berenang sehingga sudah terbiasa dengan air. Jadi sebetulnya hanya butuh penyesuaian. Yang dibutuhkan adalah ketenangan ketika berada di bawah laut. Nikmati keindahan bawah laut dengan rasa syukur pada Tuhan betapa indahnya dunia ini. Saya akan kembali suatu hari nanti untuk melakukan diving lagi.
Serpong, 18 Juni 2007
Rasa penasaran ditambah keinginan untuk melakukan adventure, petualangan baru, membuat saya ngotot kembali lagi ke Kepulauan Seribu. Alhasil, pada hari Selasa (12/6) pagi, saya datang lagi ke Marina Ancol, pagi-pagi sekali.
Saya tiba pukul 05.50. Perjalanan dari rumah cukup 50 menit, itupun dalam kecepatan sangat santai. Ternyata Pak Sumarto sudah tiba lebih dulu, dan tidur di mobilnya. Hari Senin sebelumnya, saya ke Kepulauan Seribu, ke Pulau Kotok Besar untuk melihat pencemaran limbah minyak di perairan tersebut.
Nah, soal diving, yang tertantang dengan ajakan Pak Sumarto ternyata bukan hanya saya. Ada dua teman lainnya, yaitu Aan Dwi Puantoro (RCTI) dan Prasetyo Utomo (Antara). Karena itu, begitu sampai di Pulau Pramuka (butuh satu jam dari Marina Ancol dengan kapal cepat HM Dephut), kami bertiga langsung jalan ke baliho tak jauh dari Pulau Pramuka, markas Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Kami bertiga dibantu instruktur Pak Umar, Pak Saeran dan Pak Satibi. Mereka semua sudah master dalam dunia diving, dan ketiganya orang pulau. Setelah diajari cara menggunakan tabung diving dan penggunaan alat lainnya, kami diminta melakukan pemanasan dulu, seperti halnya pemanasan olahraga.
Setelah itu, kami diminta untuk mengawali dengan snorkeling lebih dahulu. Jadi tabung belum digunakan. Ngomong-ngomong soal snorkeling, saya ingat waktu bertugas di Kalimantan Barat, saya pernah lho melakukan snorkeling di perairan sebuah pulau di Laut China Selatan, yang masuk wilayah Kalbar. Airnya jernih sekali. Ikan-ikan dan terumbu karangnya luar biasa. Setelah hampir 10 tahun, saya baru kali ini melakukan snorkeling lagi.
Waw, asyik banget lho. Berputar-putar di perairan Laut Jawa, dekat Pulau Pramuka, melihat bagaimana ikan-ikan berseliweran, dan terumbu karang hasil rehabilitasi. Setelah sensasi snorkeling, saya menikmati sensasi diving. Di sinilah saya merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang ada di dalam laut.
Memang awalnya ada perasaan was-was. Tetapi rasa penasaran lebih banyak sehingga setelah berada di dalam laut, saya menikmati scuba diving ini. Saya didampingi Satibi. Telinga memang terasa sakit. Tetapi lama-lama, rasa sakit itu hilang. Rupanya saya sudah di kedalaman 1o meter, di bawah kontainer yang menjadi rumah ikan.
Apakah Anda bisa membayangkan, bagaimana rasanya melihat ratusan atau ribuan ikan kecil tiba-tiba melintas di dekat kita? Beragam karang hias yang berwarna-warni memancarkan keindahan alami. Sungguh sensasi yang tak terlupakan!
Esok paginya, Rabu (13/6), kami diajak ke perairan Pulau Semak Daun, untuk melakukan diving lagi. Perahu motor nelayan berhenti di tengah laut lepas. Lalu kami satu persatu masuk ke dalam bawah laut. Awalnya tetap snorkeling. Tapi tak berapa lama, kami mulai menyelam. Kali ini, saya menyelam hingga di kedalaman 12 meter, didampingi Pak Satibi.
Saya melihat ikan pari menyelinap di bawah bebatuan di dasar laut. Ikan-ikan hias berwarna-warni yang menyimpan keindahan tiada tara. Sayang, saya belum punya kamera bawah air. Kalau tidak, tentu sensasi seperti ini bisa diabadikan. Suatu hari kelak, saat diving lagi, petualangan di bawah laut itu harus diabadikan.
Sungguh, saya baru kali pertama menyelam diving di bawah laut. Karena itu instruktur saya, Satibi bilang, untuk seorang pemula, menyelam di kedalaman 12 meter sudah luar biasa. Saya memang senang berenang sehingga sudah terbiasa dengan air. Jadi sebetulnya hanya butuh penyesuaian. Yang dibutuhkan adalah ketenangan ketika berada di bawah laut. Nikmati keindahan bawah laut dengan rasa syukur pada Tuhan betapa indahnya dunia ini. Saya akan kembali suatu hari nanti untuk melakukan diving lagi.
Serpong, 18 Juni 2007
Langganan:
Postingan (Atom)